Selasa, 26 Oktober 2010

Datin Suri Perdana


Duhai datin suri perdana
Tumpuan harap ayah dan bunda
Doa pintaku smoga dikabulnya
Kelak menjadi insane berguna

Engkau sepantun santan temui
Lemak terasa manispun ada
Bijak menjaga maruwah diri
Menjunjung harkat martabat negeri

Reff:
Duhai datin suri perdana
Aku dendangkan dalam buaian
Langgam kaza syair gurindam
Khasanah riau semenjak silam

Sekilas pandang dalam lamunan
Duduk berselimpuh berkebaya labuh
Menyusun lentik jari sepuluh
Menyambut tahnia ayah dan ibu

Datuk Laksemana


Tersebut datuk laksmana
Satria Raje Dilaut
Datuk laksmane raje dilaut
Dibukit batu tempat tahtanye

Datuk laksmane satria sakti
Sepantun payung tuah negeri (2x)

Tersebut datuk laksmana
Satria Raje Dilaut
Datuk laksmane raje dilaut
Dibukit batu tempat tahtanye

Lautnya sakti rantau bertuah
Berlubuk ikan minyak berlimpah

Datuk laksmane bijak bestari
Duduk menyirat tegak mencari (2x)

Tersebut kisah datuk laksmane
Ditanjung jati celupkan kaki

Ikan terubuk datang hampiri
Tuah diberi semule jadi (2x)

Pak Ngah Balek


Letak dahan sikayu bulat ..
Dibawa orang dari sempadan
Pulau bintan pulau penyengat ahai…
Bagaikan bunga kembang setaman 2x

Hai pak ngah balek
bulan mengambang….
Pak ngah balek hari dah siang 2x

Orang berlayar pulau penyengat..
membawa kundur berkaki-kaki
Pemimpin jujur mendapat berkat ahai…
doa dan syukur pada illahi 2x

Hai pak ngah balek bulan mengambang….
Pak ngah balek hari dah siang

Lebat bunge berbatang-batang
Untuk di rangkai diatas piring
Adat lembaga sama dipegang
Bagai pengantin duduk bersanding 2x

Hai pak ngah balek
bulan mengambang….
Pak ngah balek hari dah siang 4x

Joget Pahang

Melenggang hai
Melenggang dengan tari lenggang
Kalau baik hati
Nanti orang pun sayang (2x)
Dari Melaka ke negeri Pahang
Singgah di Johor beli berangan (2x)

Kami ucapkan selamatlah datang
Apa yang kurang dicaci jangan

Melenggang hai
Melenggang dengan tari lenggang
Kalau baik hati
Nanti orang pun sayang (2x)

Pukullah gendang hai kulit kerbau
Dalam majlis tari menari (2x)

Sayalah ini bang hoi dagang merantau
Mengharap belas orang di sini (2x)


Melenggang hai
Melenggang dengan tari lenggang
Kalau baik hati
Nanti orang pun sayang (2x)

Negeri Pahang aman sentosa
Kaya dengan tumbuh-tumbuhan (2x)

Niat di hati bang oii...
Nak buat jasa
Mudah-mudahan Tuhan kabulkan (2x)

Melenggang hai
Melenggang dengan tari lenggang
Kalau baik hati
Nanti orang pun sayang (2x)

Ijuk


Yang mana rambut bila bersandung ijuk
Beras taklah sama putih
Yang mana padi ha….
Mana ilalang ha…
Hampir tak dapat dibedakan

Buah landan kasih sayang
Ku kira sirih akan bertemu pinang
Suci kapur saya sajikan
Mengapa getah damar kau bawa
Menjadi kaca benih berbisa
Kaulah penyebab ku luka

Ho…..ho….
Ho…….ho….
Biarku mendulang intan
Tapi ku terdulang angin guraumu…
Yang berbisik-bisik sayang
Yang berkata rindu kepadaku
Kupinta hidup serumah
Satu atap sah menikah kau tak mau
Malah kau putus-putuskan tah kasih sayang
Kepadaku….

Kau kusanggaka bulan sayang
Yang dapat ku genggam sayang
Rupanya kau bunting yang jauh
Tak mungkin dapat kusentuh 2x

Tenas Effendy

[tenas+EFFENDY.jpg] DR. H. TeH. Tenas Effendy, Doktor (HC)
1. Riwayat Hidup
Tengku Nasaruddin Said Effendy atau yang lebih dikenal dengan Tenas Effendy, dilahirkan pada 9 November 1936 di Dusun Tanjung Malim, Desa Kuala Panduk, Pelalawan. Tengku Nasaruddin Said Effendy adalah nama pemberian dari ayahnya, Tengku Said Umar Muhammad. Sementara ibunya, Tengku Sarifah Azamah juga memberi Tenas dengan nama Tengku Nasrun Said Effendy.

Ayahnya adalah sekretaris pribadi Sultan Said Hasyim, Sultan Pelalawan ke-8 waktu itu. Ayahnya selalu menulis mengenai semua silsilah Kerajaan Pelalawan, adat-istiadat, dan peristiwa penting lainnya dalam sebuah buku yang dinamakan Buku Gajah. Setelah Sultan Said Hasyim mangkat pada tahun 1930, T. Said Umar Muhammad dan keluarga pindah dari Pelalawan ke Kuala Panduk dan menjalani aktivitas seperti masyarakat lainnya. Di Kuala Panduk T. Said Umar Muhammad diangkat sebagai Penghulu sekaligus sebagai guru agama yang pertama dan guru sekolah desa.


Masa kecil T. Nasaruddin Effendy dihabiskan dengan mengikuti ayahnya berladang padi, hingga T. Nasaruddin Effendy sejak kecil paham betul kegiatan berladang yang dilakukan ayahnya dan masyarakat desanya sehari-hari. Selain itu, beragam peristiwa dan aktivitas kebudayaan yang dilakukan oleh masyarakat di sekitarnya dapat disaksikan langsung oleh Tenas, seperti upacara penabalan Sultan Said Harun, upacara menuba ikan yaitu sebuah ritual yang juga sarat dengan adat, upacara mengambil madu yang sarat dengan magis dan kental dengan ritual kebudayaan asli, dan berbagai aktivitas budaya lainnya.


Kebiasaan dalam mendengar, melihat dan mengamati berbagai khasanah budaya ini secara berangsur-angsur membuat Tenas mampu menyerap berbagai unsur budaya tersebut dan terpatri sangat mendalam dalam kehidupannya. Kendati belum memahami benar, namun kebiasaan masyarakat dengan beragam aktivitas kebudayaannya itu telah membentuk pandangan Tenas mengenai kebudayaan Melayu yang Islami.


Setelah berumur 6 tahun, Tenas mulai masuk Sekolah Agama dan Sekolah Rakyat yang ada di kampungnya. Di Sekolah Agama Tenas mendapat pendidikan dari ayahnya sebagai guru agama, sedangkan di Sekolah Rakyat Tenas mendapat pelajaran dari gurunya (Alm) T. Said Hamzah. Jika sekolah agama dilakukannya di masjid bersama teman-temannya, sekolah umum dilakukannya di sekolah yang sangat sederhana, dengan duduk beralaskan tikar.


Alat tulis yang digunakan pun hanya dari batu yang disebut dengan papan batu. Kegiatan belajar tidak hanya dilakukan di sekolah maupun di masjid, tetapi di ladang, di pokok-pokok getah dan di tepi sungai.


Pada zaman pendudukan Jepang, tentara Jepang yang berada di Pelalawan selalu datang ke kampung-kampung, tak terkecuali Kuala Panduk untuk mencabut padi-padi yang ditanam masyarakat. Kondisi ini jelas menyebabkan hasil pertanian menurun drastis, persediaan pangan yang biasanya disimpan di pondok-pondok ladang dirampas oleh tentara Jepang dan kaki tangannya.


Untuk mengatasi penderitaan masyarakat karena perlakuan tentara Jepang dan kaki tangannya, pihak istana mengeluarkan seruan untuk menyimpan padi-padi ke tengah hutan, agar tidak dirampas oleh Jepang. Sebagai penghulu waktu itu, T. Said Umar Muhammad tidak henti-hentinya menghimbau warga kampung untuk melaksanakan seruan istana, yaitu tidak menyerahkan hasil pertaniannya kepada Jepang. Karena aktivitasnya ini, sering kali Tengku Said Umar Muhammad harus mendapat ancaman pihak Jepang, dan beberapa kali akan ditangkap, namun nasib baik masih berpihak kepadanya. Pada akhir revolusi kemerdekaan pada tahun 1949, keluarga Tenas pindah ke Pelalawan.


Tahun 1950, Tenas menamatkan sekolah di Sekolah Rakyat di Pelalawan. Setelah itu ia melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Guru B (SG B) di Bengkalis. Tidak banyak kegiatan yang dilakukannya selama menuntut ilmu di Bengkalis. Hanya sekali-sekali Tenas mencoba menulis kemudian dikirim ke berbagai akbar yang ada di Medan. Selain itu Tenas giat mengikuti latihan pandu Hisbulwathan yang dipimpin oleh Dt. Adham. Setelah 3 tahun menempuh pendidikan di Bengkalis, Tenas melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Guru A di Padang.


Selama mengikuti pendidikan di Padang, banyak sekali kegiatan yang dilakukan oleh Tenas. Dasar menulis yang diperolehnya selama pendidikan di Bengkalis diteruskannya selama di Padang. Dengan kemampuan yang dimilikinya Tenas sering mengikuti berbagai acara kesenian berupa pembacaan puisi dan sering mengisi acara karya budaya yang disiarkan oleh RRI Padang.


Aktivitas organisasi pun tak luput dari perhatiannya di samping terus menulis dan berkesenian. Sebuah organisasi bernama SEMI (Seniman Muda Indonesia) adalah organisasi pertama yang dimasukinya, dan ia diberi kepercayaan sebagai salah seorang Ketua Cabang Padang bersama SB. Jass, di organisasi yang berpusat di Bukit Tinggi ini. Bersama teman-temannya di antaranya Salius (salah seorang Pendiri Harian Singgalang) memprakarsai berdirinya Himpunan Seniman Muda Padang.


Melalui organisasi ini berbagai aktivitas dilakukan mulai dari pementasan drama, teater, seni suara, musik, puisi dan menulis yang tidak pernah ditinggalkannya. Pementasan drama yang berjudul “Titik-titik Hitam” karya Nasyah Jamin adalah salah satu kegiatan yang masih dapat diingat olehnya, di samping drama lain buah karyanya sediri. Setelah 3 tahun di Padang, Tenas menyelesaikan pendidikannya yaitu tahun 1957.


Tahun 1958 Tenas pindah ke Riau (Pekanbaru), aktivitas menulisnya terus dilakukan, begitu juga kegiatan berkesenian. Bersama Muslim Saleh, Tenas mengadakan pameran lukisan di Rumbai tahun 1959. Ini merupakan kegiatan pameran pertama yang dilaksanakan di Riau waktu itu. Tahun 1960 Tenas sempat mengajar di salah satu sekolah di Siak, namun panggilan dan jiwa seni mengantarkannya kembali ke Pekanbaru untuk terus melakukan berbagai aktivitas berkesenian dan terus aktif menulis karya-karya sastra.


Selain aktivitas seni, penerbitan buku-buku tentang kebudayaan Riau juga mulai dilakukan antara tahun 1968-1970. Tenas sendiri menulis buku “Lancang Kuning, Kubu Terakhir” (novel). Sedangkan Umar Ahmad Tambusai menulis “Tuanku Tambusai, Pancang Jermal”, juga Wan Saleh Tamin menulis buku “Lintasan Sejarah Rokan”.


Pada tahun 1968, Tenas memulai aktivitas penelitiannya dengan berbagai macam objek penelitian. Objek pertama yang diteliti adalah masyarakat suku asli (Petalangan). Selain itu, Tenas juga mulai melakukan berbagai kajian tentang beragam kebudayaan lain. Ia menghabiskan waktunya dalam melakukan kajian di hampir seluruh pelosok Riau dan Kepulauan Riau, masuk kampung yang satu ke kampung yang lain. Bertemu dengan banyak masyarakat asli dan tempat-tempat bersejarah yang sudah punah. Tenas menghimpun pantun, ungkapan, peribahasa, perumpamaan, gurindam, bidal, ibarat, nyayian panjang sampai kepada seni bina arsitektur bangunan-bangunan tradisional.


Penyingkatan nama dari Tengku Nasaruddin Effendy menjadi Tenas Effendy pada tahun 1957, membawa manfaat baginya dalam perjalanannya melakukan penelitian ke daerah-daerah pada berbagai kalangan masyarakat tradisional. Hal ini disebabkan jika masyarakat mengetahui bahwa peneliti itu adalah seorang Tengku, maka akan ada semacam jarak (gap). Hasil-hasil penelitian ini terutama yang berkenaan dengan sastra lisan direkamnya dalam bentuk kaset yang terkumpul lebih kurang 1.500 rekaman.


Dari perjalanan panjangnya berkecimpung dengan kajian kebudayaan dan aktivitasnya dalam menulis, Tenas berhasil mengumpulkan lebih kurang 20.000 ungkapan, 10.000 pantun dan tulisan-tulisan lain mengenai kebudayaan Melayu. Kepiawaiannya dalam menulis dan pengetahuannya yang mendalam tentang kebudayaan menarik minat banyak institusi untuk berbagi pemikiran dalam berbagai seminar, simposium, dan lokakarya, mulai dari Malaysia, Singapura, Brunei sampai ke Belanda.


Pada tanggal 7 Februari 1970, Tenas menikah dengan Tengku Zahara binti Tengku Long Mahmud. Dari perkawinannya tersebut telah dikarunia 3 orang putra dan 4 orang putri yaitu T. Hidayati Effiza, T. Fitra Effendy. T. Ekarina, T. Nuraini, T. Taufik Effendy, T. Ahmad Ilham, dan T. Indra Effendy. Kendati telah menikah dan mempunyai anak, aktivitas berkesenian Tenas tidaklah surut di samping bekerja sebagai redaktur di mingguan "Canang" dan "Sinar Masa". Beruntunglah Tenas karena memiliki istri yang paham akan aktivitasnya dan selalu memberi dukungan moril dan semangat kepadanya.


Pengertian ini Tenas rasakan sejak aktifnya ia melakukan kajian yang mengharuskannya pergi sampai berbulan-bulan ke beberapa pelosok kampung, hingga sampai sekarang. Istri dan keluarganya selalu memberi dukungan dan semangat. Kepada anak-anaknya Tenas selalu mengatakan jika suatu saat ajal menjemputnya, maka bukan harta yang ditinggalkannya tetapi kekayaan berupa buku-buku dan bahan-bahan tentang adat istiadat dan kebudayaan Melayu Riau.


Ia berharap mereka dapat membaca, memahami, melihat dan menyimak berbagai khasanah kebudayan Melayu itu dan mengamalkannya dalam kehidupannya.

Dari dulu hingga sekarang Tenas masih aktif dalam berbagai organisasi. Keaktifannya dalam mengikuti berbagai organisasi menyebabkan ia mendapat kepercayaan dan posisi penting dalam organisasi tersebut.

Adapun posisi atau jabatan penting yang pernah dipegangnya, antara lain:
·  Ketua Umum Lembaga Adat Melayu Riau (2000 – 2005)
·  Ketua Dewan Pembina Lembaga Adat Pelalawan (2000 – Sekarang)
·  Pembina Lembaga Adat Petalangan (1982 – Sekarang)
·  Pengurus Dewan Kesenian Riau.
·  Pengurus Pondok Seni Rupa Riau (1960 – 1968).
·  Pengurus Masyarakat Sejarawan Indonesia Riau (1974 – Sekarang).
·  Pengurus Badan Pembina Kesenian Daerah Riau (1968 – 1978).
·  Pengurus Lembaga Karya Budaya Riau (1960 – 1965).
·  Penasehat Paguyuban Masyarakat Riau (2001 – Sekarang).
·  Memimpin Yayasan Setanggi Riau (1986 – Sekarang).
·  Memimpin Yayasan Serindit (2001 – Sekarang).

Pembina/Penasehat berbagai organisasi sosial, kemasyarakat dan budaya Di Propinsi Riau.


Pengaruh / Pemikiran

Sumbangan pemikiran Tenas Effendy di dunia kemelayuan banyak memberikan sumbangan positif bagi orang-orang Melayu. Pemikiran-pemikiran Tenas Effendy mengenai Melayu yaitu di antaranya:
·  Bahwa untuk menghadapi masa depan, yang penuh cabaran dan tantangan diperlukan budaya yang tangguh untuk melandasi sikap dan perilaku masyarakat pendukungnya agar menjadi manusia tangguh. Oleh karena itu, budaya Melayu yang memiliki nilai-nilai luhur yang Islami yang sudah teruji kehandalannya, harus dikekalkan dengan menjadikannya sebagai “jatidiri” bagi masyarakatnya. Nilai-nilai budaya ini diyakini mampu mengangkat marwah, harkat dan martabat kemelayuan dalam arti luas. Di dalam resam Melayu, nilai-nilai yang dimaksud dipaterikan ke dalam ungkapan-ungkapan adat, yang disebut sebagai “Sifat yang Duapuluh Lima”, atau “pakaian yang Duapuluh Lima”. Jika sifat atau pakaian itu dijadikan sebagai “jatidiri” , tentu akan menjadi “orang” yang “sempurna” lahiriah dan batiniah.
·  Bahwa untuk menjaga nilai kegotoroyongan, nilai tenggang rasa, dan nilai keberasamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka yang perlu dilakukakan adalah menjaga nilai-nilai asas persebatian Melayu (Perekat Kehidupan Bermasyaraka, Berbangsa dan Bernegara). Hal ini selaras dengan ungkapan adat Melaya yang mengatakan: “Hidup sebanjar ajar mengajar, hidup sedusun tuntun menuntun, hidup sekampung tolong-menolong, hidup senegeri beri memberi, hidup sebangsa rasa merasa”

Pengaruh pemikiran Tenas Effendy tidak hanya di Indonesia saja, tapi juga meliputi wilayah Asia Tenggara, khususnya negara-negara tetangga yang dihuni oleh sebagian orang-orang Melayu, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand.3. Karya Tulis

Karya-karya Tenas Effendy yang ditulis dalam buku-buku yang diterbitkan di dalam dan di luar negeri, sekitar 200 judul

Penghargaan

Ada beberapa Penghargaan yang telah diterima oleh Tenas Effendy sebagai Budayawan, yaitu antara lain:
·  Memperoleh Gelar adat Sri Budaya Junjungan Negeri oleh Sri Mahkota Setia Negeri Bengkalis (Bupati Bengkalis, H. Syamsurizal), di Balai Adat Melayu Bengkalis.
·  Pada tahun 1997, mendapat penghargaan dari Yayasan Sagang melalui “Anugrah Sagang 1997” dalam kategori Budayawan Terbaik.
·  Pada 17 September 2005, memperoleh Penghargaan gelar akademis tertinggi sebagai Doktor Honoris Causa bidang persuratan atau Kesusasteraan dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).

Alamat sekarang:Jalan Raya Pasir Putih, Desa Tanah Merah, Siak Hulu, Pekanbaru, 28131, Riau.Telp. +62 761 71061
Sumber:
“Tegak Menjaga Tuah, Duduk Memelihara Merwah”: Mengenal Sosok, Pikiran dan Pengabdian H. Tenas Effendy. Makmur Hendrik, Mahyudin Al Mudra, Deni Ermanto Iddehan (Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, 2005).


Pemerintah Malaysia dan Perguruan tinggi disana sangat pandai memanfaatkan kepakaran beliau untuk menjadi narasumber untuk menggali Budaya Melayu yang sudah Langka ini.
Sekarang menjadi tenaga pengajar Staf Ahli / pakar Budaya Melayu di Univesity Malaya di Kuala Lumpur.



Sumber: http://www.sungaikuantan.com/2009/07/riwayat-tenas-effendy-tokoh-melayu.html

Sabtu, 23 Oktober 2010

Ayam Putih Pungguk


Ayam putih pungguk memakan padi jomo
Mak utih duduk menunduk bagai bintang timur
Bintang timur tinggi melodi pucuk nipah
Mak utih duduk mengaji, orang minta sopal
Sopal di dalam batik, batik diatas dulang
Belanja tiga kain, nanti abang pulang

Ayam … Putih … Pungguk … (2x)

Letak kayu cabang
Sunda diatas gedung
Cantiknya tunangan abang
Seperti burung

Burung kicau-kicau, kicau diatas dulang
Adik berbaju hijau, abang berkain panjang
Sopal di dalam batik, batik diatas dulang
Belanja tiga kain, nanti abang pulang.

Ayam … Putih … Pungguk … (2x)

Tuanku Tambusai

Dalam Nukilan Sejarah
Jasa dan baktimu nyata sudah
Kau berjuang menjunjung marwah
Berbilang negeri rantau dan lelah

Taksim Tuanku Tambusai
Bergelar Paderi harimau Rokan
Pesan amanahmu tak terlerai
tak berarah tak berbatas sampai

#Reff
Tiada madah dan sanjungan
Tak bintang tersemat didada
Walaupun baktimu setara
Hanya kini nisan pusara

Dalam syair kukalamkan
Engkau pahlawan patut disebut
Andalan negeri Bumi Bertuah
Oh… Tambusai….. Tuanku Tambusai

Bunga Tanjung


Bunga tanjung putih berseri
Kembang jelita harum baunya
Gagah sungguh pohonmu berdiri
Tegap rimbun gagah perkasa

Harum jelita si bunga suci
Idaman dara gadis rupawan
Sangat sombongnya bungamu menari
Melenggang-lenggok dihujung dahan

Walaupun engkau si bunga tanjung
Hiasan sanggul gadis rupawan
Tiadalah kamu sangat beruntung

Bagai melati
Bagai melati dilembah sana
Lihatlah senyuman kembang melati
Disunting kelana hati...
Di lembah sunyi

Lihatlah pula bunga teratai
Dijunjung musafir lambai melambai

Sungguh nasibmu si bunga tanjung
Bagai cahaya ditutup mendung
Tiadalah tangan menyunting kamu
Menunggu gugur di angin lalu
Malang dudukmu di dahan tinggi
Kini bertabur di atas bumi

Pantai Solop


Terkuak indah alam membentang
di rantau bumi sri gemilang
pulau cawan aduhai negeri mandah
Pantai Solop berbilang pesona

Pasirnye kilau kemilau
serpihan kulit satwa lautnye
Bermain ombak aduhai tercerlah bakau
Terhampar putih eloknye bagai permate

Nuanse alamnye bagai surgawi, membawe teduh suasane hati
Kicauan burung nyanyian sunyi
Pantai soloooop rahmat ilahi.

Penduduknye ramah juge berbudi
Pancaran budaya khasanah negri

Lestarikanlah warisan ini
Pantai soloop, pantai soloop, pantai solooop
Pantai sejati

Nuanse alamnye bagai surgawi, membawe teduh suasane hati
Kicauan burung nyanyian sunyi.
Pantai soloooop rahmat ilahi.

Penduduknye ramah juge berbudi
Pancaran budaya khasanah negri

Lestarikanlah warisan ini
Pantai solooop , pantai soloop, pantai solooop
Pantai sejati

Rabu, 20 Oktober 2010

Sri Mersing

Hatiku runsing bertambahlah pilu
Mengenangkan nasib
Mengenangkan nasib
Yatimlah piatu
Hatiku rungsing bertambahlah pilu
Mengenangkan nasib
Mengenangkan nasib
Yatimlah piatu

Pantai Mersing kualalah Johor
Pantainya bersih sangatlah mashyur
Pantai Mersing kualalah Johor
Pantainya bersih sangatlah masyur
Pohonkan doa kitalah bersyukur
Negaralah kita negaralah kita
Hai aman dan makmur
Pohonkan doa kitalah bersyukur
Negaralah kita negaralah kita
Hai aman dan makmur

Tanjung Katung


Tanjung katung airnya biru
Tempat dara mencuci muka
Lagi sekampung hati ku rindu
Kononlah jauh di mata...

Asal kapas menjadi benang
Benang ditenun menjadi kain
Orang yang lepas jangan di kenang
Sudah menjadi si orang lain

Dua tiga kuda berlari
Manalah sama si kuda belang
Dua tiga dapat ku cari
Manalah sama adik seorang

Pisang Emas bawa berlayar
Masak sebiji di atas peti
Hutang emas boleh di bayar
Hutanglah budi dibawa mati

Isabella


Isabella adalah
Kisah cinta dua dunia
Mengapa kita berjumpa
Namun akhirnya terpisah

Siang jadi hilang
Ditelan kegelapan malam
Alam yang terpisah
Melenyapkan sebuah kisah...

Terbayang lambaiannya
Salju terbakar kehangatan
Dunia di penuhi
Warna berseri bunga cinta
Kita yang terlena
Hingga musim berubah
Mentari menyepi
Bernyalalah api cinta

*
Dia Isabella
Lambang cinta yang lara
Terpisah kerana
Adat yang berbeda
Cintaku gugur bersama
Daun daun kekeringan...

Back To *

Haluan hidupku
Terpisah dengan Isabella
Tapi aku terpaksa
Demi cintaku Isabella
Moga dibukakan
Pintu hatimu untukku
Akan terbentang jalan
Andainya kau setia
Oh! Isabella....

Nirmala



Diciptakan seorang insan
Lembut hati bak redup pandangan
Pabila berkata
Seluruh alam menyaksikan kesyahduan
Bagai tersentuh rasa percaya
Tika terdengarkan

Aduhai...

Telah jauh berkelana entah di mana
Ada rasa hanya kuntum kasihnya
Khabar itu merelakan perjalanannya
Ada jiwa hanya kuntum kasihnya

Biar panas membakar
Biar ranjau mencabar
Telah mekar hati seindah purnama

Dipujuk segala rajuk
Sepi rindu adakala
Meracun imannya

(Biar panas membakar
Biar ranjau mencabar
Hati mekar seindah purnama)

Siapa menyapa bagai pelita
Arah yang menghilang tika gelita
(Duhai kasih bulan saksi)

Tatap tidak ditatap
Kotakan di dada yang terdetik
Temukan sang cinta

(Angin pun mula bercerita
Semesta nyata terpedaya)
Kekasih tak berbahasa
Getir fikir derita mengharap
Suara...

(Tangis bagai gerimis
Hati bak tasik pedih
Cuba cari hakikat
Temukan azimat)

(Kasih gundah gerhana
Diam tak berirama
Gusar tambah gementar
Tak tertanggung rasa)

Nun dari sana
Telah turun berbicara
Sang kesuma bidadari syurgawi

Sesungguhnya berkasihlah
Di antara manusia
Perindah segala kata-kata
Bahagia itu janjinya

Mengapa kita sengketa
Rentaslah jalan terbuka
Tanpa dusta

(Telah teguh di garis... Karma!)

Telah jauh berkelana entah di mana
Ada rasa hanya kuntum kasihnya
Khabar itu merelakan perjalanannya
Ada jiwa hanya kuntum kasihnya

Biar panas membakar
Biar ranjau mencabar
Telah mekar hati seindah purnama

Dipujuk segala rajuk
Sepi rindu adakala
Meracun imannya

(Biar panas membakar Biar ranjau mencabar Hati mekar seindah purnama)

Tangis bagai gerimis
Hati bak tasik pedih
Cuba cari hakikat
Temukan azimat

Kasih gundah gerhana
Diam tak berirama
Gusar tambah gementar
Tak tertanggung rasa

Laila Canggung

Laila canggung laila canggung
Laila resah hatinya bingung

Engkau dipuji engkau dipuja laila
Pandai menari cantik parasnya
Kemana mana senyum dibawa
Laila riang selasih bertemu gula

Tetapi bunga nasibnya bunga laila
Lagu dirayu kumbang nan lalu

Laila canggung laila canggung
Laila resah hatinya bingung

Laila canggung laila canggung
Laila resah hatinya bingung

Tinggal seruas ujungnya tebu
Tawar rasanya….
Laila canggung patah hatinya
Karena bercinta putus bercinta

Punai terlepas dari genggaman
Kasih pujaan…..
Laila bingung apa sebabnya
Salah tiada dalam bercinta

Laila canggung laila canggung
Laila resah hatinya bingung

Laila canggung laila canggung
Laila resah hatinya bingung

Engkau dipuji engkau dipuja laila
Pandai menari cantik parasnya
Kemana mana senyum dibawa
Laila riang selasih bertemu gula

Tetapi bunga nasibnya bunga laila
Lagu dirayu kumbang nan lalu

Laila canggung laila canggung
Laila resah hatinya bingung

Laila canggung laila canggung
Laila resah hatinya bingung

Tinggal seruas ujungnya tebu
Tawar rasanya….
Laila canggung patah hatinya
Karena bercinta putus bercinta

Punai terlepas dari genggaman
Kasih pujaan…..
Laila bingung apa sebabnya
Salah tiada dalam bercinta
Laila canggung laila canggung
Laila resah hatinya bingung

Laila canggung laila canggung
Laila resah hatinya bingung

Dedap Durhaka



Semasa dulu di selat bengkalis
Dekat bandul tanjung sekudi
Tersebut kisah dedp durhaka
Budak yang tidak membalas guna

Pais dedak panggang keluang
Bekal si dedap pergi merantau
Setelah kaya lupakan diri
Bunda kandungnya tak diakuinya

Dedap durhaka budak celaka
Tak tau diri apa jadinya
Bagaikan kacang lupakan kulit
Setelah kering ditimpa panas

Terkabullah sumpah bunda kandungnya
Turunlah angin puting beliung
Lancang si dedap menjadi pulau
Tumbuh membelah manisnya pantai.

Hangtuah



Dang merdu bunda berjasa
Melahirkan putra perkasa
Hang tuah laksmana satria
Teladan negeri dan bangsa
Dari bintan kepulauan riau
Kaum baktimu kesegenap rantau
Walau kini kau telah tiada
Fatwamu tiadakan sirna
Tuah sakti hamba negeri
Resah hilang 2 terbilang
Patah tumbuh Hilang kan berganti
Takan melayu hilang di bumi
Engkau susun jari 10
Mengatur sembah duduk bersimpuh
Halus budi resah melayu
Hang tuah ho…ho hang tuah.

Pucuklah Pisang

Pucuklah pisang sibunga rampai
Hamu semerbak disenjalah hari
Sunggulah bimbang kasih tak sampai
Tinggallah daku seorang diri
 

La….la…. pucuklah pisang sibunga rampai
La….. la…. Hatiku sedih kasih tak sampai
Pucuklah pisang warnanya hijau
Diterpa angin gugurlah ke bumi
Hatiku sedih mengenang dikau
Terbawa sampai kedalam mimpi
La…… la… pucuklah pisang warnanya hijau
La…… la…. Hatiku sedih mengenang dikau

Burung Nuri

Burung Nuri terbang tinggi,
balik turun di atas dahan.
Mari-mari kasih hati,
aku rindu kepada tuan.

Rupamu elok tak bandingnya,
suaramu nyaring lagu merdu
haaaa… aaaa… haaaaaa…
Jika Nuri terbang jauh,
rasa hati diambang duka.
Ingin tenang suka sungguh,
kalau belum menyapa tuan.

Seroja



Mari menyusun seroja
Bunga seroja ah... ah...
Hiasan sanggul remaja
Puteri remaja ah... ah...

Rupa yang elok
Di manja jangan dimanja ah... ah...
Puja lah ia sekadar
Oh sekadar saja

( korus )
Mengapa kau bermenung
Oh adik berhati binggung
Mengapa kau bermenung
Oh adik berhati binggung
Lupakan saja asmara
Pada asmara...
Lupakan saja asmara
Pada asmara...

Mari menyusun seroja
Bunga seroja ah... ah...
Hiasan sanggul remaja
Puteri remaja ah... ah...

Rupa yang elok
Di manja jangan dimanja ah... ah...
Puja lah ia sekadar
Oh sekadar saja

Cindai


Cindailah mana tidak berkias
Jalinnya lalu rentah beribu
Bagailah mana hendak berhias
Cerminku retak seribu

Mendendam unggas liar di hutan
Jalan yang tinggal jangan berliku
Tilamku emas cadarnya intan
Berbantal lengan tidurku
Hias cempaka kenanga tepian
Mekarnya kuntum nak idam kumbang
Puas ku jaga si bunga impian
Gugurnya sebelum berkembang

Hendaklah hendak hendak ku rasa
Puncaknya gunung hendak ditawan
Tidaklah tidak tidak ku daya
Tingginya tidak terlawan

Janganlah jangan jangan ku hiba
Derita hati jangan dikenang
Bukanlah bukan bukan ku pinta
Merajuk bukan berpanjangan

Akar beringin tidak berbatas
Cuma bersilang paut di tepi
Bidukku lilin layarnya kertas
Seberang laut berapi

Gurindam lagu bergema takbir
Tiung bernyanyi pohonan jati
Bertanam tebu di pinggir bibir
Rebung berduri di hati

Laman memutih pawana menerpa
Langit membiru awan bertali
Bukan dirintih pada siapa
Menunggu sinarkan kembali

Selayang Pandang


Dari mana datangnya lintah,
Dari sawah turun ke kali
Darilah mana datangnya cinta,
Darilah mata turun ke hati
Layang-layang selayang pandang,
Hati di dalam rasa bergoncang
Layang-layang jatuh di kali,
Sekali pandang jatuh ke hati.

Buah duku buah rambutan,
Beli peti isinya laksa
Hatiku rindu bukan buatan,
Mengenang kasih jauh di mata
Layang-layang selayang pandang,
Hati di dalam rasa bergoncang
Layang-layang dipohon dungkuh,
Kalau dipandang menjadi rindu.

Pulau pandan jauh di tengah,
Di balik pulau si angsa dua
Hancurlah badai dikandung tanah,
Budi yang baik terkenang jua,
Layang-layang selayang pandang,
Hati di dalam rasa bergoncang
Layang-layang dari Cibinong,
Terpaut pandang janganlah bingung.

Kalau ada sumur di ladang,
Boleh kita menumpang mandi
Kalaulah ada umurku panjang,
Bolehlah kita berjumpa lagi
Layang-layang selayang pandang,
HAati di dalam rasa bergoncang
Layang-layang tangkainya lidi,
Selayang pandang sampai disini.

Soleram


Soleram
Soleram
Soleram
Anak yang manis
Anak manis janganlah dicium sayang
Kalau dicium merah lah pipinya

Satu dua
Tiga dan empat
Lima enam
Tujuh delapan
Kalau tuan dapat kawan baru sayang
Kawan lama ditinggalkan jangan

Laksamana Raja di Laut


Zapin aku dendangkan
Lagu Melayu
Pelipur hati
Pelipur lara

Cahaya manis kilau gemilau
Di Kampung Tapir indah menawan
Aku bernyanyi berzapin riang
Moga hadirin aduhai sayang
Jadi terkesan

Kembanglah goyang atas kepala
Lipatlah tangan sanggul dipadu
Kita berdendang bersuka riaL
lagulah zapin aduhai sayang
Rentak Melayu

Laksamana raja di laut
Bersemayam di Bukit Batu
Ahai hati siapa
Ahai tak terpaut
Mendengar lagu zapin Melayu

Membawa tepak hantaran belanja
Bertakhta Perak indah berseri
Kami bertandang mewujud budaya
Tidak Melayu aduhai sayang
Hilang dibumi

Peting lah gambus sayang lantang berbunyi
Disambut dengan tingkah meruas
Saya menanyi sampai di sini
Mudah-mudahan hadirin semua menjadi puas

Laksamana raja di laut
Bersemayam di Bukit Batu
Ahai hati siapa
Ahai tak terpaut
Mendengar lagu zapin Melayu

Cecah Inai


Mari beramai-ramai
Kita memetik si daun inai hai sayang
Mari beramai-ramai
Kita memetik si daun inai
Dipetik daunnya, dibuang tangkainya
Diguna untuk mempelai (2x)

Daun si daun inai
Digiling halus memerah jari hai saying
Daun si daun inai
Digiling haus memerah jari
Hai jari yang lentik menyusunkan sembah
Pertanda mempelai melayu (2x)

Tepung si tepung tawar
Mempelai duduk diatasa gerai hai saying
Tepung si tepung tawar
Mempelai duduk diatas gerai
Alangkah padannya sepasang mempelai
Bak pinang dibelah dua (2x)

Lancang Kuning


Lancang kuning Lancang kuning berlayar malam hai berlayar malam (2x)
Haluan menuju haluan menuju ke laut dalam (2x)
Lancang kuning berlayar malam, lancing kuning berlayar malam.

Kalau nahkoda, kalau nahkoda kuranglah paham, hai kuranglah paham (2x)
Alamatlah kapal, alamatlah kapal akan tenggelam (2x)
Lancang kuning berlayar malam (2x)

Lancang kuning, Lancang kuning menentang badai hai menentang badai (2x)
Tali kemudi, tali kemudi berpilin tiga (2x)
Lancang kuning menentang badai (2x)

Selamatlah kapal, selamatlah kapal menuju pantai, hai menuju pantai (2x)
Pelautlah pulang, pelautlah pulang dengan gembira (2x)
Lancang kuning menuju pantai, pelaut pulang dengan gembira

Tudung Periuk

Tudung periuk tudung periuk pandailah menari
Permainan anak permainan anak Raja Malaka
Kain yang buruk kain yang buruk berikan kami
Untuk menyapu untuk menyapu si air mata
Kain yang buruk kain yang buruk berikan kami
Untuk menyapu untuk menyapu si air mata

Tudung periuk tudung periuk pandailah berdendang
Pandai berdendang pandai berdendang lagu seberang
Barang yang buruk barang yang buruk tak 'kan dipandang
Dijual tidak dijual tidak dibeli orang
Barang yang buruk barang yang buruk tak 'kan dipandang
Dijual tidak dijual tidak dibeli orang